Depan Semangat Gotong Royong Warga Blok Cibihbul Desa Cimenga, Pengecoran Atap Masjid Berjalan Lancar

Semangat Gotong Royong Warga Blok Cibihbul Desa Cimenga, Pengecoran Atap Masjid Berjalan Lancar

Cimenga — Jumat, 18 September 2026,  Warga Blok Cibihbul mulai dari RT 008 – RT 010 Dusun Cimenga kembali menunjukkan kekompakan dan kebersamaan yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat pedesaan. Kegiatan pengecoran atap masjid yang berlangsung pada hari ini berjalan lancar berkat semangat gotong royong yang masih terpelihara kuat hingga saat ini. Puluhan warga dari berbagai kalangan usia turun tangan bersama-sama menyelesaikan pekerjaan tersebut tanpa mengenal lelah.

Pengecoran ini dimulai setelah sholat jumat, walaupun sangat panas menyengat tidak menyurutkan semangat warga terbukti di sekitar lokasi pembangunan masjid sudah tampak ramai. Kaum bapak bahu-membahu mengangkut material bangunan, mengaduk adonan semen, hingga mengoperasikan mesin molen. Sementara itu, kaum ibu tidak ketinggalan berperan dengan menyiapkan konsumsi bagi para pekerja, untuk menyemangati bapak-bapak bergotong royong mengecor atap masjid , hingga hidangan penutup berupa kopi dan camilan tradisional. Para pemuda pun turut ambil bagian, membantu proses pengecoran dengan tenaga dan semangat yang tinggi.

Ketua panitia pembangunan masjid, dalam keterangannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas partisipasi aktif seluruh warga. Menurutnya, pengecoran atap merupakan salah satu tahapan penting dalam pembangunan masjid yang telah dinanti-nantikan oleh masyarakat setempat. “Alhamdulillah, hari ini kita bisa melaksanakan pengecoran atap masjid dengan lancar. Ini semua berkat kerja sama dan gotong royong warga yang luar biasa. Tanpa bantuan dan dukungan dari semua pihak, tentu pekerjaan ini akan terasa berat,” ujarnya.

Tokoh masyarakat setempat juga turut memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat kebersamaan yang ditunjukkan warga blok Cibihbul (RT 008 – RT 010). Ia menegaskan bahwa gotong royong bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan sebuah kearifan lokal yang menjadi identitas dan kekuatan sosial masyarakat desa. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman yang semakin individualistis.

“Gotong royong ini adalah warisan leluhur kita yang sangat berharga. Di tengah arus modernisasi, kita patut bersyukur karena semangat kebersamaan seperti ini masih tetap hidup dan terpelihara di lingkungan kita. Pembangunan masjid ini menjadi bukti nyata bahwa kekuatan gotong royong mampu menyelesaikan pekerjaan besar dengan cara yang ringan dan penuh kebersamaan,” tuturnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan proses pengecoran dilakukan secara bertahap dan terorganisir. Warga dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja dengan tugas masing-masing, mulai dari kelompok pengangkut material, kelompok pencampuran adonan, hingga kelompok yang bertugas meratakan cor di bagian atap. Koordinasi yang baik antarwarga membuat pekerjaan yang cukup berat ini dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.

Tidak hanya warga dewasa, sejumlah anak-anak dan remaja pun tampak antusias menyaksikan dan sesekali membantu pekerjaan ringan di sela-sela kegiatan. Kehadiran generasi muda dalam kegiatan gotong royong ini dinilai sebagai bentuk pembelajaran langsung mengenai pentingnya kebersamaan dan kepedulian terhadap fasilitas umum, khususnya rumah ibadah.

Pembangunan masjid di Cibihbul sendiri telah berjalan sejak beberapa waktu lalu, dengan sumber dana yang berasal dari kas masjid, swadaya masyarakat, sumbangan para donatur, serta bantuan dari berbagai pihak yang peduli terhadap pembangunan sarana ibadah. Panitia pembangunan menyampaikan bahwa proses pembangunan akan terus dilanjutkan hingga tahap penyelesaian, termasuk pekerjaan finishing , hingga penataan interior masjid.

Selain menjadi tempat ibadah, keberadaan masjid ini juga diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan sosial dan keagamaan bagi masyarakat RT 008, RT 009 RT 010 blok Cibihbul, seperti kegiatan pengajian, majelis taklim, hingga kegiatan keagamaan lainnya yang dapat mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Di akhir kegiatan, panitia menyampaikan harapan agar pembangunan masjid dapat segera rampung dan bisa segera digunakan oleh masyarakat untuk melaksanakan ibadah dengan nyaman. Panitia juga mengajak seluruh warga untuk terus bersama-sama mendukung kelancaran pembangunan, baik melalui tenaga, materi, maupun doa.

Kegiatan pengecoran atap masjid di Cibihbul ini menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai kearifan lokal, khususnya gotong royong, tetap relevan dan mampu menjadi solusi efektif dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan di tingkat desa. Semangat kebersamaan semacam ini diharapkan dapat terus menjadi teladan bagi wilayah-wilayah lain dalam membangun fasilitas umum secara swadaya dan penuh kekeluargaan. (pdi)